Cerita cinta 3 siswi SMA Mentari
Nadira
(Nadira Putri Wibisana Anashtasya)
Banyak
yg bilang, aku ini aneh. Karena cenderung cuek sama penampilan.
Jangan tanya warna kesukaan, bagiku nggak penting. Karena itu nggak punya warna kesukaan. Meski terkenal dengan
keunikanku, tapi ada dua orang sahabat yg mengerti dan menerimaku apa adanya, yaitu Dinda & Oca, Dinda itu gadis yg modis banget & Oca
yg humoris, tapi s'lalu berpenampilan rapi dengan warna yg harmonis.
Dan satu lagi yg aku suka, aku suka lagu-lagu Jazz dan RnB.
Sekarang aku suka sama salah satu anggota basket kami. Tim basket kami namanya bintang
utara. Tapi aku terlalu malu untuk berkenalan, meski hanya sekedar tanya nama
padanya. Karena merasa terlalu cupu untuk dia. Dengan kaca mata super
besar, tapi yg kulihat dunia ini terlalu besar untukku. Terkadang aku
merasa seperti debu, yg sama sekali tak berarti. Aku hanya anak yg
penuh imajinasi, yg katanya berlebihan.
Ketika sangat senang rasanya seperti berjalan kaca maupun awan. Tapi saat minder, kulihat diriku sperti liliput. Sehingga semua bisa dengan mudahnya menginjakku.
Ya
ampun, gara-gara ngelantur. Aku nggak sadar, kalau sudah sampai di sini. Di
depan pintu kelas cowok yang aku suka. Dia begitu menawan, wajah
tampan, kulit putih, serta tubuh yang atletis.
Pikiran
itu tiba-tiba terhenti. Aku terkejut, bahkan hampir tidak percaya dengan penglihatanku. Ku
lihat dia seperti pangeran.”Hei Nadira, ada apa dengan pikiranmu? Dia itu
lelaki biasa, bukan pangeran.” Ku berikan pukulan kecil pada kepala ini,
berusaha keluar dari dunia khayalan.
“Hmm...
aku akan mengikutinya.” Tiba-tiba aku merasa penasaran dengannya. “Lebih baik
ku amati dari jauh. Jangan sampai dia menyadari keberadaanku.” Aku pun jaga jarak, dan mengendap seperti mata-mata. Tengok ke kanan
dan ke kiri serta ke belakang. Memastikan posisiku aman.
Jadi merasa seperti mata-mata. Aku bertekat untuk lebih tahu tentang dia lebih dalam.
“Akan
ku rahasiakan dari siapa pun, termasuk Dinda. Kecuali aku terpaksa cerita
padanya.” Teriakku dalam hati sambil tersenyum misterius. Entahlah, kenapa aku
merasa ini sangat rahasia. Dan aku akan berusaha untuk bertindak dan bersikap
seperti biasa, agar Dinda tidak curiga.
“Mereka itu siapa?” teriakku dalam hati. Ada banyak orang, di sekelilingnya. Mereka
juga berpenampilan cupu seperti ku. Cowok itu menarik perhatianku. Cowok yg keren seperti dia mau berteman dengan
orang-orang cupu seperti aku.
Tiba-tiba
terbesit sebuah pikiran, ada kemungkinan untuk dekat dengannya. “Tidak-tidak,
aku tidak boleh berpikir seperti itu. Ada apa dengan diriku?” Tapi mendadak
kepalaku sakit sekali. Aku mencoba melangkah sekuat tenaga. Mungkin baru 30
langkah dari tempat aku berdiri.
Tiba-tiba
terasa seperti di angkasa luas. Entah kenapa pikiranku jadi tidak karuan,
kepalaku terasa berat. Pandanganku pun mulai buram. Lalu, dari detik ke detik
langit semakin gelap. Pelan tapi pasti, aku seperti mulai tak dapat melihat dan
badanku mulai tak mampu berdiri tegak. Sepertinya badanku akan roboh. Aku pun
terjatuh, lalu tak tahu apa-apa,
semuanya menjadi gelap.
Ku
buka mataku, awalnya buram tapi lama-lama semua mulai terlihat jelas. Saat aku
terbangun, aku ada di ruangan serba putih. Tempat apa ini, pikirku. Mencoba mengingat, seperti mengenal tempat ini. Dan apa yang baru saja
terjadi, aku masih bingung dengan keadaan yg ada. “Ada apa
ini? Kenapa banyak orang di sini?” bisikku dalam hati.
Dinda
duduk di sampingku sambil menggenggam erat tanganku, dengan wajah panik. Dinda menyadari aku t'lah sadar, lalu melepaskan genggaman tangannya. “Dinda, aku
ada di mana? Ada apa ini? Yg membawaku ke sini? Ah...” tiba-tiba
kepalaku terasa sangat pusing, aku mencoba untuk bangun.
“Nadira...
jangan bangun dulu, kamu masih butuh istirahat, berbaring sajalah. Tenang, kamu
sedang ada di UKS, tadi kamu ditemukan pingsan oleh kapten basket itu. lalu dia
membawamu ke sini.”
“Apa?
Apa aku tidak salah dengar, Dinda? Kapten basket?”
“Iya
Nad. Kalau tahu akan begini, kenapa nggak aku saja
yang pingsan. Biar seperti cerita dongeng. Seorang putri pingsan kemudian di
gendong pangeran yang tampan.”
“Hei Dinda, bicara apa kamu? Dia bukan pangeran. Ambil saja dia, karena bukan dia yg aku suka, tapi salah satu anggota basketnya.” Aku langsung menutup mulutku. Apa yg ku katakan? Kenapa aku jadi sejujur itu? Bahkan terlalu jujur.
“ Apa maksudmu?”
“Nggak apa-apa.”
“Oh, begitu? Iya sih, dia bukan pangeran. Tapi kalau kamu lihat paniknya dia, pasti akan suka dengannya. Dia tadi sempat menunggumu di sini, dan tampak panik garda-gara kamu belum sadar.” Dengan nada bicara sedikit kecewa mendengar tanggapanku yg tak searah dengannya.
“Kalau aku lihat, namanya bukan pingsan. Tapi pura-pura pingsan,” pikirku. Aku sedikit tersenyum mendengarnya cerewet tanpa ampun.
“Nad, kamu tahu nggak? Aku tadi khawatir
setengah mati, sejak lihat kamu pucat. Aku hampir nggak bisa nafas karena khawatir. Tapi kamu hilang begitu cepat. Hingga aku
terbayang kamu dalam bahaya. Jadi aku mencari kamu. Untung ada anak
basket yang bilang, kalau kamu di UKS. Katanya mereka melihatmu dibawa kapten
basket ke UKS. Bagaimana bisa dengan keadaan kurang sehat begini
tetap sekolah.”
“Perhatian
kamu berlebihan deh Din, bahkan mirip seorang kakak atau
mungkin seorang ibu. Aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa jaga diri. Aku kan
berangkat sekolah karena aku nggak mau ketinggalan pelajaran.” Jawabanku.
Kenapa harus dia sih yang menolongku? Bicara sama cewek saja kaku, nggak ada ramah-ramahnya. Orangnya ketus pula.
Tapi tiba-tiba Dinda memecahkan lamunanku.
"Kenapa bengong?" kata Dinda.
"Kenapa bengong?" kata Dinda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Saya butuh kritik dan saran agar karya saya bisa menjadi lebih baik.