Selasa, 21 April 2015

CINTA YANG BERPINDAH TANGAN #1


 Cerita cinta 3 siswi SMA Mentari

Nadira (Nadira Putri Wibisana Anashtasya)
Banyak yg bilang, aku ini aneh. Karena cenderung cuek sama penampilan. Jangan tanya warna kesukaan, bagiku nggak penting. Karena itu nggak punya warna kesukaan. Meski terkenal dengan keunikanku, tapi ada dua orang sahabat yg mengerti dan menerimaku apa adanya, yaitu Dinda & Oca, Dinda itu gadis yg modis banget & Oca yg humoris, tapi s'lalu berpenampilan rapi dengan warna yg harmonis. Dan satu lagi yg aku suka, aku suka lagu-lagu Jazz dan RnB.

Sekarang aku suka sama salah satu anggota basket kami. Tim basket kami namanya bintang utara. Tapi aku terlalu malu untuk berkenalan, meski hanya sekedar tanya nama padanya. Karena merasa terlalu cupu untuk dia. Dengan kaca mata super besar, tapi yg kulihat dunia ini terlalu besar untukku. Terkadang aku merasa seperti debu, yg sama sekali tak berarti. Aku hanya anak yg penuh imajinasi, yg katanya berlebihan.

Ketika sangat senang rasanya seperti berjalan kaca maupun awan. Tapi saat minder, kulihat diriku sperti liliput. Sehingga semua bisa dengan mudahnya menginjakku.

Ya ampun, gara-gara ngelantur. Aku nggak sadar, kalau sudah sampai di sini. Di depan pintu kelas cowok yang aku suka. Dia begitu menawan, wajah tampan, kulit putih, serta tubuh yang atletis.

Pikiran itu tiba-tiba terhenti. Aku terkejut, bahkan hampir tidak percaya dengan penglihatanku. Ku lihat dia seperti pangeran.”Hei Nadira, ada apa dengan pikiranmu? Dia itu lelaki biasa, bukan pangeran.” Ku berikan pukulan kecil pada kepala ini, berusaha keluar dari dunia khayalan.
“Hmm... aku akan mengikutinya.” Tiba-tiba aku merasa penasaran dengannya. “Lebih baik ku amati dari jauh. Jangan sampai dia menyadari keberadaanku.” Aku pun jaga jarak, dan mengendap seperti mata-mata. Tengok ke kanan dan ke kiri serta ke belakang. Memastikan posisiku aman.
Jadi merasa seperti mata-mata. Aku bertekat untuk lebih tahu tentang dia lebih dalam.
“Akan ku rahasiakan dari siapa pun, termasuk Dinda. Kecuali aku terpaksa cerita padanya.” Teriakku dalam hati sambil tersenyum misterius. Entahlah, kenapa aku merasa ini sangat rahasia. Dan aku akan berusaha untuk bertindak dan bersikap seperti biasa, agar Dinda tidak curiga.
“Mereka itu siapa?” teriakku dalam hati. Ada banyak orang, di sekelilingnya. Mereka juga berpenampilan cupu seperti ku. Cowok itu menarik perhatianku. Cowok yg keren seperti dia mau berteman dengan orang-orang cupu seperti aku.
Tiba-tiba terbesit sebuah pikiran, ada kemungkinan untuk dekat dengannya. “Tidak-tidak, aku tidak boleh berpikir seperti itu. Ada apa dengan diriku?” Tapi mendadak kepalaku sakit sekali. Aku mencoba melangkah sekuat tenaga. Mungkin baru 30 langkah dari tempat aku berdiri.
Tiba-tiba terasa seperti di angkasa luas. Entah kenapa pikiranku jadi tidak karuan, kepalaku terasa berat. Pandanganku pun mulai buram. Lalu, dari detik ke detik langit semakin gelap. Pelan tapi pasti, aku seperti mulai tak dapat melihat dan badanku mulai tak mampu berdiri tegak. Sepertinya badanku akan roboh. Aku pun terjatuh,  lalu tak tahu apa-apa, semuanya menjadi gelap.
Ku buka mataku, awalnya buram tapi lama-lama semua mulai terlihat jelas. Saat aku terbangun, aku ada di ruangan serba putih. Tempat apa ini, pikirku. Mencoba mengingat, seperti mengenal tempat ini. Dan apa yang baru saja terjadi, aku masih bingung dengan keadaan yg ada. “Ada apa ini? Kenapa banyak orang di sini?” bisikku dalam hati.
Dinda duduk di sampingku sambil menggenggam erat tanganku, dengan wajah panik. Dinda menyadari aku t'lah sadar, lalu melepaskan genggaman tangannya. “Dinda, aku ada di mana? Ada apa ini? Yg membawaku ke sini? Ah...” tiba-tiba kepalaku terasa sangat pusing, aku mencoba untuk bangun.
“Nadira... jangan bangun dulu, kamu masih butuh istirahat, berbaring sajalah. Tenang, kamu sedang ada di UKS, tadi kamu ditemukan pingsan oleh kapten basket itu. lalu dia membawamu ke sini.”
“Apa? Apa aku tidak salah dengar, Dinda? Kapten basket?”
“Iya Nad. Kalau tahu akan begini, kenapa nggak aku saja yang pingsan. Biar seperti cerita dongeng. Seorang putri pingsan kemudian di gendong pangeran yang tampan.”

“Hei Dinda, bicara apa kamu? Dia bukan pangeran. Ambil saja dia, karena bukan dia yg aku suka, tapi salah satu anggota basketnya.” Aku langsung menutup mulutku. Apa yg ku katakan? Kenapa aku jadi sejujur itu? Bahkan terlalu jujur.

“ Apa maksudmu?”

“Nggak apa-apa.”

“Oh, begitu? Iya sih, dia bukan pangeran. Tapi kalau kamu lihat paniknya dia, pasti akan suka dengannya. Dia tadi sempat menunggumu di sini, dan tampak panik garda-gara kamu belum sadar.” Dengan nada bicara sedikit kecewa mendengar tanggapanku yg tak searah dengannya. 

“Kalau aku lihat, namanya bukan pingsan. Tapi pura-pura pingsan,” pikirku. Aku sedikit tersenyum mendengarnya cerewet tanpa ampun.
 “Nad, kamu tahu nggak? Aku tadi khawatir setengah mati, sejak lihat kamu pucat. Aku hampir nggak bisa nafas karena khawatir. Tapi kamu hilang begitu cepat. Hingga aku terbayang kamu dalam bahaya. Jadi aku mencari kamu. Untung ada anak basket yang bilang, kalau kamu di UKS.  Katanya mereka melihatmu dibawa kapten basket ke UKS. Bagaimana bisa dengan keadaan kurang sehat begini tetap sekolah.”
“Perhatian kamu berlebihan deh Din, bahkan mirip seorang kakak atau mungkin seorang ibu. Aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa jaga diri. Aku kan berangkat sekolah karena aku nggak mau ketinggalan pelajaran.” Jawabanku.

Kenapa harus dia sih yang menolongku? Bicara sama cewek saja kaku, nggak ada ramah-ramahnya. Orangnya ketus pula.
Tapi tiba-tiba Dinda memecahkan lamunanku.
"Kenapa bengong?" kata Dinda.

Senin, 16 Maret 2015

Aku adalah Aku

Hai perkenalkan nama gue Nadira, Nadira Putri Wibisana Anashtasya. Jangan kaget ya kalau namaku panjang banget. Sampai-sampai guruku bilang, bisa-bisanya aku mengambil nama orang satu jagat. Gila nggak tuh pemikiran. Buat aku itu pemikiran yang gila pake banget. Kalau dipikir-pikir, buat apa coba gue mengambil nama dari orang sejagat. Kurang kerjaan keles. Lebay amat sih. Itu si

banyak temen-temen sekolah yang bilang aku anak aneh. Tapi meski begitu ada orang yang paling mengerti aku, dan terima aku apa adanya. Dia adalah dinda, anak-anak satu sekolah bilang dia adalah wanita yang sempurna. Tapi terkecuali cowok yang aku sukai, tapi sayang dia terlalu sempurna buat aku.

Syahira Sahabatku

Jam menunjukkan tepat pukul 4 pagi. Mulai kurasakan ada seberkas cahaya yang 
mencoba menembus kelopak mataku. Pasti ada yang mencoba menghentikan tidur ku 
dengan cahaya mentari. Ternyata benar, ku lihat ibu membuka gorden kamar ku.

Aku pun bangkit dari tidur, yang begitu singkat, hanya empat jam. Karena perjalanan 
panjang kami yang melelahkan. Dari dini hari hingga tengah malam. Dari kota yang 
kecil ke kota yang besar nan indah. Sebuah kota yang bernama Angel City, entah
kenapa dinamakan sebagai Kota Malaikat. Mungkin karena keindahan alamnya.
Seperti salah satu Paradise Park yang kami kunjungi kemarin.
Kamar ku sudah rapi, aku segera berwudlu dan sholat subuh. Lalu aku bersepeda dengan 
se-kotak makanan. Aku bersepeda sambil menikmati udara pagi. Hingga aku berhenti di 
sebuah lapangan yang tampaknya sangat terawat. Aku pun turun dari sepeda, lari ke tengah 
lapangan, dan memutar badan dalam keadaan mata tertutup. Aku menghirup udara dengan 
lega, seperti mendapatkan jiwa yang baru, jiwa yang teramat tenang dan damai.
Ku berhentikan gerakan memutar itu dan membuka mata. Kemudian aku duduk bersila 
di atas rerumputan yang basah tersiram hujan semalam, aku pun memakan hingga habis 
makanan yang kubawa. Dan aku kembali menenangkan pikiran. Setelah itu ku pejamkan 
mata dan kubayangkan wajah orang yang sangat penting bagiku, dan selalu kurindukan 
setiap saat untuk menceritakan semua yang kualami dan kurasakan.
“Hai Syahira, sahabatku. Apa kabar?” Itulah hal pertama yang ingin aku ucapkan jika 
aku berjumpa dengannya. Seandainya jika aku bisa berbicara dengan siapa pun yang 
jauh dari ku dengan telepati, orang yang pertama ingin ku ajak bicara adalah Syahira, 
dia adalah sahabat karibku. Dari kecil sebelum kami menginjak usia sekolah kami selalu 
bersama. Dan baru sekali ini kami dipisahkan.
Aku kembali menenangkan diri dan berfikir seolah aku mampu berbicara dengan Syahira 
melalui hati kami.Tetap bersila dan memejamkan mata.
Hai Syahira, semoga saja hatimu dapat mendengar ku. Aku ingin cerita tentang semua 
tentang ku di sini. Syahira, di sini aku punya tetangga baru yang sangat ramah. Setiap akan 
pergi aku disapa oleh mereka. Aku senang bisa tinggal di kota yang indah ini, tapi aku juga 
sedih karena aku harus berpisah denganmu sahabatku. Hari ini adalah hari pertama ku di sini. 
Dan lusa aku akan masuk ke sekolah baru ku, hanya itu yang bisa aku ceritakan sekarang. 
Besok aku akan kembali kelapangan ini, sepulang dari sekolah. Dan menceritakan semua 
yang terjadi padaku. Selamat tinggal Syahira, semoga suatu saat nanti kita berjumpa lagi ya?
Udara sudah mulai terasa hangat, hari telah siang. Aku harus pulang, sebelum ayah dan 
ibu mencari ku.
Aku pun membuka mataku. Tiba-tiba mataku dikejutkan oleh seorang gadis kecil yang ada 
di depanku. Entah dari mana dia berasal, aku tak mengenalnya. Sungguh ini adalah sesuatu 
yang tak pernah ku duga. Gadis kecil yang cantik, dengan sepasang bola mata indah. Gerakan
matanya seolah mengamati ku. Seolah dia bertanya pada dirinya sendiri, siapa diriku dan apa
yang ku lakukan di sini. Gadis kecil itu datang dengan seorang ibu. Entahlah siapa ibu itu,
mungkin itu ibunya.
“Hai aku Filsa, kau siapa?” kata gadis kecil itu. Aku terdiam sejenak dalam kebingungan, 
ada seorang anak kecil yang tak ku kenal. Dan dia mengajak ku berkenalan.“Namaku 
Stargirl,” jawabku. Itu nama samaran ku.
“Benarkah?“ katanya. “Ya, begitulah,” kataku. Tiba-tiba Filsa mundur dan bertanya, 
“Itu kucing?” dengan wajah ketakutan. “Iya ini kucing ku, namanya Katty. Coba kau 
mendekat, jangan takut dia tidak akan menggigit kau. Dan elus-elus kepalanya, dia suka 
itu.” Filsa pun memberanikan diri untuk mendekat dan membelai lembut Katty. "Wah,
kau benar kak dia tak menggigit ku. Dia sungguh menggemaskan." kata gadis itu sambil
membelai lembut Katty.
“Emm, maaf nak, apa kau penduduk yang baru pindah itu ya?”
“Iya, Ibu. Memangnya kenapa?” aku agak terkejut dengan pertanyaannya.
“Maafkan anakku jika dia mengganggu mu,” kata ibu itu dengan begitu lembut. Aku 
hanya bisa membalasnya dengan anggukan kepala sambil tersenyum.
"Ma, aku ingin juga kucing seperti ini, dia sangat lucu." Kata filsa tiba-tiba.
"Iya sayang, besok kita belinya ya?"
"Iya Ma."

Oh iya, aku hampir saja lupa menyebutkan namaku. Namaku Renuka, ini nama asli ku 
bukan nama samaran lagi. Hmm, aku menyebutkan padanya maksudku gadis kecil itu, 
bahwa namaku adalah Stargirl. Karena aku selalu berharap bahwa aku bisa menjadi 
bintang sirius yang selalu terang tak peduli bagaimana pun cuaca nya.
“Ya sudah kak aku mau pulang, sampai jumpa kak,” Filsa kemudian berlari tanpa 
mempedulikan jawabanku. “Iya,” jawabku.
 “Sayang jangan lari, nanti kamu jatuh,” ibu ini mengejar Filsa dengan sekuat tenaga. 
Anak itu begitu lincah berlari.
“Aku akan hati-hati kok Ma,” Lila terus berlari tanpa mempedulikan ibunya yang 
berusaha mengejarnya. Dan mereka kini telah menghilang dari penglihatan ku.
Aku pun bergegas menuju sepeda ku yang aku parkir di tepi lapangan. Agar waktu lebih
efektif, aku pun berlari. Dan telah sampailah aku di sebelah sepeda ku. Perutku begitu
lapar karena tadi baru kumakan separuh dari bekal ku. Aku pun menghabiskan makanan
itu. Kemudian aku menaiki sepeda ku dan mengayuh sekuat tenaga agar segera sampai
ke rumah. Karena lapangan nya lumayan jauh, setelah setengah jam aku baru sampai.
Kulihat jam tanganku menunjukkan sudah pukul 12:30. Aku mengayuh kan sepeda sekuat
tenaga untuk secepatnya sampai rumah sekaligus mengejar kesempatan untuk sholat luhur.

Rabu, 28 Januari 2015

Aku Butuh

Aku selalu ada untukmu
Dan selalu coba mengerti kamu
Meski kau tak pernah mengerti aku
Aku butuh hmm.. di mengerti

Aku selalu ada untukmu
Selalu ada untukmu, meski kau tak pernah ada di dekatmu
Saat aku butuh...
Aku butuh cinta 2x

Aku memang tak pernah bisa, menjandi apa yang kau mau karna, kelemahanku
Aku, butuh, diterima, apa adanya....

Aku selalu ada untukmu
Selalu coba mengerti kamu
Hingga aku lelah, hingga aku bosan
Tak sanggup lagi... hadapi kamu

Reff :
Aku butuh cinta
Aku mengerti
Aku butuh diterima apa adanya...

Aku tak butuh janji
Hanya butuh kata pasti
Dalam hati ini oo...
Tapi tak kudapati
Kepastian hati ini
Selama denganmu, selama ini...

Back to reff

Aku butuh cinta, di mengerti, diterima apa adanya

Back to reff

Aku butuh